Kartini: Bukan Sekadar Fesyen, Tetapi Pikiran
Hari ini, 147 tahun yang lalu, tepatnya 21 April 1879 di Jepara, lahirlah sosok perempuan yang menjelma simbol emansipasi bagi kesetaraan. Dia masyhur dengan aforisme "habis gelap terbitlah terang" yang dijadikan tajuk kumpulan surat-surat yang ditulisnya pada rentang 1899–1904. Bukan surat cinta, tentu saja, melainkan catatan-catatan progresif, memuat pikiran-pikiran menantang pada masanya, yang menentang perlakuan subordinatif terhadap perempuan. Aforisme itu dipetiknya dari QS Al-Baqarah 257 yang dalam Al-Qur'an maupun Injil (2 Korintus 4:6) merujuk hikmah pencerahan, dalam hal ini, pengetahuan. Kartini adalah anak pasangan bangsawan, Raden Mas Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah, yang tumbuh dalam asuhan feodalisme Jawa. Sejak belia, ia sudah mendapatkan akses pendidikan khusus oleh sebab latar belakangnya. Sosok yang dikenang dengan "Panggil Aku Kartini Saja" (tanpa Raden Ajeng) itu memperoleh izin bersekolah di Europese Lagere School - sekolah Belanda yang diperuntukkan khusus bagi anak-anak keluargaa eropa dan bangsawan pribumi. Namun, privilege pendidikan tidaklah berlangsung lama, budaya patriarki yang masih perkasa dan dianggap wajar segera menyergapnya. Gadis 12 tahun itu, oleh sebab tradisi dalam keluarga bangsawan, harus menjalani masa pingitan yang menghambat ruang gerak serta membuat rasa cintanya atas pendidikan tertimpa nelangsa. Selama terkurung di rumah, Kartini muda tidak membiarkan dirinya terbebani belenggu tradisi. Semangat belajarnya tidak pernah padam. Ia tidak berpatah arang menunggu seorang pelamar datang meminangnya. Bersama saudara-saudaranya, Kartini menyintasi hari-hari sulit dengan melukis, bermain piano, membuat kerajinan tangan, sambil menularkan kecintaan membaca kepada mereka. Ia rajin menulis korespondensi, menjadikan teman-teman Eropanya sebagai kolega bertukar pikiran, terutama tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan, kesetaraan, serta kritik terhadap sistem feodal dan kolonialisme yang menindas. Dalam setiap tulisannya, Kartini menuangkan kegelisahan mendalam melihat nasib perempuan pribumi yang terkungkung, tanpa kesempatan memperoleh akses pendidikan. Tulisan-tulisan korespondensial inilah yang kelak dihimpun dan diterbitkan menjadi buku berjudul "Habis Gelap Terbitlah Terang" — yang sampai hari ini terus dibaca, bahkan menjadi warisan intelektual yang banyak menginspirasi generasi penerus. Setelah aturan pingitan dilonggarkan, Kartini mulai berinteraksi dengan dunia luar. Ia bersama adik-adiknya berkunjung ke desa-desa, berupaya membantu para pengrajin di Jepara agar lebih sejahtera. Kartini mulai terlibat aktivisme, meskipun keinginan kuat melanjutkan pendidikan—termasuk cita-cita belajar ke Belanda—terus dihambat aturan adat dan bahkan digagalkan oleh keluarga sendiri. Kartini tidak berpangku tangan atau menjadi depresi, ia memutuskan membuka sekolah mandiri untuk para gadis. Di tengah perjuangan tersebut, ia menerima lamaran Bupati Rembang dengan syarat: tetap diperbolehkan mengembangkan gagasannya tentang pendidikan, tetap diperkenankan membuka sekolah yang mengajarkan keterampilan serta kemandirian kaum perempuan. Sekali lagi, Kartini membangun dunia barunya dengan mendedikasikan diri dalam pendidikan, ia ciptakan silabus dan sistem pengajarannya sendiri. Meski terbatas hanya kepada putri-putri bangsawan di Rembang, mimpinya tidak mendadak bengkok, Kartini sedang mencetak agen untuk memicu kemajuan perempuan dari golongan biasa. Pernikahan memang sepenuhnya memupus harapan untuk melanjutkan studi. Namun, tak mematahkan emansipasinya untuk memperjuangkan nasib kaum perempuan. Sayangnya, setahun setelah menikah, beberapa hari lepas proses melahirkan—tepatnya 17 September 1903—Kartini yang baru berusia 25 tahun dinyatakan meninggal dunia. Namun, semangat emansipasi yang diteladankannya terus hidup mencuacai perjalanan pemajuan bangsa. Penghargaan atas jasa-jasa R.A. Kartini secara resmi ditetapkan pemerintah Indonesia dengan menjadikan 21 April sebagai Hari Kartini; oleh Bung Karno melalui Keppres Nomor 108 Tahun 1964. Kartini pun diakui sebagai pahlawan nasional. Peran penting menumbuhkan kesadaran emansipasi yang bertumpu pada pendidikan membuat semangat menjadi mandiri dan setara yang dikriprahkannya tidak tertuju, atau semata-mata mendambakan sorot lampu panggung dan kamera, melainkan peluang yang sama untuk memperoleh hak dan kesempatan turut menentukan masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ringkasnya: Kartini adalah ikon intelektualisme, bukan sekadar fesyen![] Sumber: https://lib.ub.ac.id/featured/sejarah-hari-kartini-jejak-perjuangan-menuju-kesetaraan/ https://regional.kompas.com/read/2022/04/21/111500578/kisah-kartini-dalam-pingitan-gagal-sekolah-ke-belanda-hingga-memutuskan?page=all. jurnalperempuan.org detik.com